Minggu, 10 Mei 2015

Tugas Pragmatik 4



 Untuk memenuhi tugas 4 dari bapak Abdul Aziz Hunaifi

2 J PGSD UNP KEDIRI

Anggota Kelompok:
1. Bai'atul Aqobatil Ula
2. Sulastrianik
3. Luluk Hidayatul Fitroh
4. Windi Wahyu Milasari
5. Tiara Eka
6. Angga Tri


Analisislah percakapan berikut ini dengan menggunakan kajian pragmatik yang telah di pelajari!

1. Siti                   : “Sip.....akhirnya hari mulai gelap.” 
    Rohmah           : “Kamu mau kemana Sit ?” 
    Siti                   : “Mau ikut ?”
    Rohmah           : “Boleh ?”
    Siti                   : “Yakin mau ikut ?”
    Rohmah           : “Astaghfirullah, kamu jangan macam-macam lho Sit, ini sudah tengah malam.”
Dari potongan percakapan di atas, apa yang disimpulkan oleh Rohmah dari percakapannya dengan Siti ?

Jawaban dan analisis kelompok kami: 
Dari percakapan tersebut Rohmah memiliki kesimpulan bahwa Siti akan keluar malam ketempat yang tidak pantas untuk di kunjungi atau tempat yang berbahaya. Karena sebelumnya saat Rohmah menjawab “Boleh?”,  jawaban Siti “Yakin mau ikut” membuat Rohmah berpikiran negatif. Rohmah penasaran dan takut Siti keluar tengah malam sebab tidak pantas bagi seorang perempuan.  





2. Budi     : “Kemanapun aku pergi, kamu harus tetap ikut.” 
    Puji      : “Aku tidak mau kalau ketempat itu lagi. Takut.”
    Budi     : “Sudahlah. Di mana ada aku, semua pasti baik-baik saja.”
    Kata ketempat itu sebagaimana yang di ucapkan oleh Puji termasuk kedalam deiksis apa tidak?
    Apakah kata tersebut memiliki referensi ? Jelaskan !

Jawaban dan analisis kelompok kami:
Iya. Kata ketempat itu termasuk ke dalam deiksis spasial atau deiksis tempat. 
Referensinya terlihat pada kalimat yang di ucapkan Puji,
Aku tidak mau kalau ketempat itu lagi. Takut.”

Budi mengerti tanpa menanyakan maksud dari kata “Ketempat itu” yang di ucapkan Puji. Bisa dikatakan kalimat tersebut memiliki referensi, karena Budi dan Puji mengetahui kata tersirat yang mereka bicarakan.  






3.Bagus   : “Kamu itu sudah tua, kok ya tetep saja tidak pernah mau mengalah.” 
   Dirman            : “Mengalah itu untuk orang lemah dan aku tidak mau dikatakan lemah.”  
   Bagus   : “Tapi setidaknya kamu diam saja tidak perlu menimpali ucapannya terus-menerus.”
   Tirto     : “Dirman kamu bertengkar ya? Sama siapa? Dimana? Kenapa?  
   Dari potongan percakapan di atas, kenapa Tirto tidak memahami ucapan yang sedang teman temannya
   ucapkan? Jelaskan hubungan jarak antar ketiganya!  

Jawaban dan analisis kelompok kami:
Pada potongan percakapan diatas, Tirto tidak memahami ucapan teman-temannya atau tidak tahu apa yang terjadi karena dia tidak berada di tempat kejadian. Dan Bagus mengetahui kejadian tersebut kemungkinan karena dia berada disaat kejadian berlangsung atau tahu dari pihak lain, sehingga dia menasehati perbuatan yang telah dilakukan Dirman. 

Mengenai hubungan mereka, terlihat mereka bertiga adalah teman akrab. Jelas terlihat pada bahasa dan isi kalimat yang digunakan. Karena Bagus terhadap Dirman sangat perhatian terlihat dari nasehatnya pada ucapan berikut: 
 “Kamu itu sudah tua, kok ya tetep saja tidak pernah mau mengalah.” 
 “Tapi setidaknya kamu diam saja tidak perlu menimpali ucapannya terus-menerus.”

Tirto terhadap Dirman juga sangat peduli, terlihat pada ucapanya sebagai berikut:
 “Dirman kamu bertengkar ya? Sama siapa? Dimana? Kenapa?





4. Wasik  : “Sudah lama aku menanti kesempatan seperti ini.” 
     Dino    : “Jangan ajimumpung. Semua di nikmati secukupnya saja.” 
     Wasik : “Iya. Sini, pinjam golokmu.” 
     Dari percakapan di atas, tentukan macam-macam deiksis yang ada ! 

Jawaban dan analisis kelompok kami:
Deiksis persona di buktikan dengan kata “Aku” dan  mu”. 
Deiksis spasial atau tempat di buktikan dengan kata “Lama   





5. Wasis   : “Kamu tidak lapar Tia ?” 
    Tia       : “Ndak tahu.” 
    Wasis   : “Enaknya aku makan nasi apa buah saja ya?” 
    Tia       : “Makan batu aja.” 
    Wasis   : “Kita makan nasi aja ya? 
    Tia       : “Makan ati aja.”
    Percakapan diatas, apa yang dapat kamu simpulkan? Bagaimana hubungan jarak antar keduanya?

Jawaban dan analisis kelompok kami:
Wasis seseorang yang sabar tetapi tidak peka terhadap sikap Tia, pada jawaban Tia yang pertama. Ketika Wasis mengajak Tia makan, Tia menjawab dengan ketus. Wasis tetap mengajak Tia dengan tenang dan sabar untuk makan. Mungkin Tia sedang memiliki masalah, sehingga ucapannya kurang tepat atau tidak baik. 

Hubungan jarak mereka sangat dekat, dibuktikan pada ucapan Wasis yang tenang atau tidak marah setelah mendengar perkataan Tia sebagai berikut:
Makan batu aja.”
           


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar