Untuk memenuhi tugas 4 dari bapak Abdul Aziz Hunaifi
2 J PGSD UNP KEDIRI
Anggota Kelompok:
1. Bai'atul Aqobatil Ula
2. Sulastrianik
3. Luluk Hidayatul Fitroh
4. Windi Wahyu Milasari
5. Tiara Eka
6. Angga Tri
Analisislah
percakapan berikut ini dengan menggunakan kajian pragmatik yang telah di
pelajari!
1. Siti : “Sip.....akhirnya hari mulai gelap.”
Rohmah :
“Kamu
mau kemana Sit ?”
Siti :
“Mau
ikut ?”
Rohmah :
“Boleh
?”
Siti :
“Yakin
mau ikut ?”
Rohmah :
“Astaghfirullah, kamu jangan macam-macam lho Sit, ini sudah tengah malam.”
Dari potongan percakapan di atas, apa yang disimpulkan oleh Rohmah dari percakapannya dengan Siti ?
Dari potongan percakapan di atas, apa yang disimpulkan oleh Rohmah dari percakapannya dengan Siti ?
Jawaban dan analisis kelompok kami:
Dari percakapan tersebut Rohmah memiliki kesimpulan bahwa Siti akan keluar malam ketempat yang tidak pantas untuk di kunjungi atau tempat yang berbahaya. Karena sebelumnya saat Rohmah menjawab “Boleh?”, jawaban Siti “Yakin mau ikut” membuat Rohmah berpikiran negatif. Rohmah penasaran dan takut Siti keluar tengah malam sebab tidak pantas bagi seorang perempuan.
2. Budi : “Kemanapun aku pergi, kamu harus tetap ikut.”
Puji : “Aku tidak mau kalau ketempat
itu lagi. Takut.”
Budi : “Sudahlah. Di mana ada aku,
semua pasti baik-baik saja.”
Kata ketempat
itu sebagaimana yang di ucapkan oleh Puji termasuk kedalam deiksis apa
tidak?
Apakah kata tersebut memiliki referensi ? Jelaskan !
Apakah kata tersebut memiliki referensi ? Jelaskan !
Iya.
Kata ketempat itu termasuk ke
dalam deiksis spasial atau deiksis tempat.
Referensinya terlihat pada kalimat yang di ucapkan
Puji,
“Aku tidak mau kalau
ketempat itu lagi. Takut.”
3.Bagus : “Kamu
itu sudah tua, kok
ya tetep saja tidak pernah mau mengalah.”
Dirman : “Mengalah itu untuk orang lemah dan aku tidak mau dikatakan lemah.”
Dirman : “Mengalah itu untuk orang lemah dan aku tidak mau dikatakan lemah.”
Bagus : “Tapi setidaknya kamu diam
saja tidak perlu menimpali ucapannya terus-menerus.”
Tirto :
“Dirman kamu bertengkar ya? Sama siapa? Dimana? Kenapa?
Dari potongan percakapan di atas, kenapa Tirto tidak
memahami ucapan yang sedang teman temannya
ucapkan? Jelaskan hubungan jarak antar ketiganya!
ucapkan? Jelaskan hubungan jarak antar ketiganya!
Jawaban dan
analisis kelompok kami:
Pada potongan percakapan diatas, Tirto tidak
memahami ucapan teman-temannya atau tidak tahu apa yang terjadi karena dia
tidak berada di tempat kejadian. Dan Bagus mengetahui kejadian tersebut
kemungkinan karena dia berada disaat kejadian berlangsung atau tahu dari pihak lain, sehingga dia menasehati perbuatan yang telah dilakukan Dirman.
Mengenai hubungan mereka, terlihat mereka bertiga adalah teman akrab. Jelas terlihat pada bahasa dan isi kalimat yang digunakan. Karena Bagus terhadap Dirman sangat perhatian terlihat dari nasehatnya pada ucapan berikut:
“Kamu itu sudah tua, kok ya tetep saja tidak pernah mau mengalah.”
“Tapi setidaknya kamu diam saja tidak perlu menimpali ucapannya terus-menerus.”
“Dirman
kamu bertengkar ya? Sama siapa? Dimana? Kenapa?”
4. Wasik : “Sudah
lama aku menanti kesempatan seperti ini.”
Dino : “Jangan ajimumpung. Semua
di nikmati secukupnya saja.”
Wasik : “Iya. Sini, pinjam
golokmu.”
Dari percakapan di atas, tentukan macam-macam
deiksis yang ada !
Jawaban dan analisis kelompok kami:
Deiksis
persona di buktikan dengan kata “Aku”
dan “mu”.
Deiksis spasial atau tempat di
buktikan dengan kata “Lama”
5. Wasis : “Kamu
tidak lapar Tia ?”
Tia : “Ndak tahu.”
Wasis : “Enaknya
aku makan nasi apa buah saja ya?”
Tia : “Makan
batu aja.”
Wasis : “Kita
makan nasi aja ya?
Tia : “Makan ati aja.”
Tia : “Makan ati aja.”
Percakapan diatas, apa yang dapat
kamu simpulkan? Bagaimana hubungan jarak antar keduanya?
Jawaban dan analisis kelompok kami:
Wasis
seseorang yang sabar tetapi tidak peka terhadap sikap Tia,
pada jawaban Tia yang pertama.
Ketika Wasis mengajak Tia makan,
Tia menjawab dengan ketus. Wasis
tetap mengajak Tia dengan tenang dan sabar untuk makan. Mungkin
Tia sedang memiliki masalah, sehingga ucapannya kurang tepat atau tidak
baik.
Hubungan
jarak mereka sangat dekat, dibuktikan pada ucapan Wasis yang tenang atau tidak
marah setelah mendengar perkataan Tia sebagai berikut:
“Makan batu aja.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar