Abdul Aziz Hunaifi, S.S., M.A.
Nama anggota :
- Bai'atul Aqobatil Ula
- Luluk Hidayatul Fitroh
- Windi Wahyu Milasari
- Sulastrianik
- Tiara Eka
- Angga
Kelas 2 J PGSD UNP Kediri
Berdasarkan konsep pragmatik
dan klasifikasi tindak tutur, analisislah percakapan yang terjadi di bawah ini
dengan menentukan: Jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh para penutur
dalam percakapan sebagaimana yang disampaikan oleh Austin & Searle dan
Searle.
Hari
Minggu sore, Andi dan teman-teman berkumpul di rumah Rahmat. Mereka sudah lama
tidak saling jumpa setelah masing-masing melanjutkan studi di kota yang
berbeda.
Andi
:
“Jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji.”
Heru
:
“Hmmmm… apa enaknya? Enakan ke rental PS.”
Rohmat
:
“Semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah
belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor.”
Poniran
:
“Sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”
Berikut ini
analisis kelompok kami :
- Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan Andi, berdasarkan konsep Austin & Searle, termasuk jenis tindak tutur perlokusi, yaitu yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah teman-temannya. Andi menyampaikan pernyataan kalau hari Minggu sore kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan adalah jalan-jalan serta mencicipi duren di Sekartaji. Dia ingin teman-temannya menanggapi pendapatnya. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
“Jalan-jalan sore gini enak lho
sambil incip-incip duren di Sekartaji.”
- Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Andi, termasuk bentuk tindak tutur direktif, yaitu jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, ia ingin jalan-jalan serta mencicipi duren di Sekartaji dan mengajak teman-temannya. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
“Jalan-jalan sore gini enak lho
sambil incip-incip duren di Sekartaji.”
- Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan Heru, berdasarkan konsep Austin & Searle, termasuk jenis tindak tutur lokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menitikberatkan pada informasi saja. Heru menyampaikan pernyataan kalau hari Minggu sore kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan adalah ke rental PS. Ia yakin bahwa kegiatan tersebut lebih baik daripada jalan-jalan dan mencicipi duren di Sekartaji. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
“Hmmmm… apa enaknya? Enakan ke
rental PS.”
- Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Heru, termasuk bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Heru menyampaikan pernyataan psikologis berupa ketidaksukaannya dengan pendapat Andi. Ia yakin bahwa ke rental PS adalah kegiatan yang lebih baik daripada jalan-jalan dan mencicipi duren di sekartaji. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
“Hmmmm… apa enaknya? Enakan ke
rental PS.”
- Menurut konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Rohmat masuk ke dalam jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah teman-temannya. Rohmat menyampaikan perasaan sedihnya atas keadaannya yang tidak dapat meninggalkan rumah karena ibunya sakit dan ayahnya yang belum pulang karena bekerja. Rohmat menginginkan ketiga temannya bersimpati kepadanya. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Rohmat berikut:
- “Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor.”
- Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Rohmat, masuk ke dalam bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Andi menyampaikan pernyataan psikologis berupa kesedihan karena ia tidak dapat melakukan kegiatan yang diusulkan Andi dan Heru, juga karena ibunya sakit dan ayahnya belum pulang bekerja (tentu ia tidak akan meninggalkan ibunya sendirian di rumah). Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
- “Semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor.”
- Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Poniran masuk ke dalam ilokusi, yaitu tuturan yang meminta / memohon petutur untuk melakukan sesuatu dalam bentuk respon dan tindakan. Poniran menyampaikan kepada Heru dan Andi serta dirinya sendiri untuk menemani Rohmat di rumah Rohmat, mungkin maksud Poniran ialah daripada mereka bersenang-senang dan tidak dapat mengikutsertakan Rohmat lebih baik menemani Rohmat. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:“Sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”
- Sedangkan menurut konsep tindak tutur
Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Rohmat, masuk ke dalam jenis deklaratif, yaitu jenis tindak tutur yang mengubah
dunia melalui tuturan atau tuturan yang menciptakan hal baru. Poniran
menetapkan bahwa kegiatan mereka adalah menemani si Rohmat. Sebagaimana yang
terlihat di dalam ucapannya berikut: “Sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”
Di
ruang J6 para mahasiswa sedang memperhatikan penjelasan dosen tentang salah
satu metode pembelajaran.
(sembari
berbisik, Bejo dan Retno berbincang seputar pelajaran yang mereka terima)
Bejo
:
“Ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya.”
Retno
:
“Yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak. Tapi pasti bisa.
Semangat!”
Dosen
:
“Untuk memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku
metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung,
Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian.”
Bejo
:
“Aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum
tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas rumah yang lain.
Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai.”
Berikut ini
analisis kelompok kami :
- Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Bejo termasuk jenis tindak tutur perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah Retno. Bejo menyampaikan bahwa ia kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Dengan tuturan tersebut, Bejo ingin Retno tahu bagaimana perasaannya dan memberi tanggapan atas perasaannya. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
“Ya
Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya.”
- Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo, tergolong jenis ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Bejo menyampaikan pernyataan psikologis berupa kesulitan yang dia rasakan karena ketidakpahamannya tentang materi metode pembelajaran yang disampaikan oleh dosen. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
“Ya
Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya.”
- Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Retno, termasuk jenis tindak tutur lokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menitikberatkan pada informasi saja. Retno sekedar mengatakan bahwa materi tersebut sedikit rumit dan langkah-langkahnya banyak. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Retno berikut:
“Yang
ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak.”
- Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Retno, tergolong jenis direktif. Direktif merupakan jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, Retno menyarankan agar Bejo tetap semangat walaupun sulit. Retno berpikir tidak mungkin tidak paham kalau mereka berdua optimis pasti bisa. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Retno berikut:
“Tapi
pasti bisa. Semangat!”
- Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh dosen, termasuk jenis tindak tutur lokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menitikberatkan pada informasi saja. Bapak dosen memberitahu para mahasiswanya, mereka bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikannya. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan beliau berikut:
“Untuk
memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang
ada di perpustakaan.”
- Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh dosen, tergolong tindak tutur jenis deklaratif, yaitu jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan atau tuturan yang menciptakan hal baru. Beliau menyatakan bahwa studi banding tidak didampingi olehnya, tapi digantikan oleh Ibu Dina. Sehingga pernyataan beliau mengubah siapa yang akan mendampingi mereka saat studi banding. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan beliau berikut:
“Satu
hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi
menggantikan Pak Dian.”
- Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Bejo, termasuk jenis tindak tutur perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Bejo menyampaikan keluh kesahnya kepada Retno dan menginginkan Retno mengerti akan perasaannya tentang betapa beratnya jika ia membaca buku. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan Bejo berikut:
“Aduh!
Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku
yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas rumah yang lain.”
- Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo, tergolong tindak tutur jenis ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Bejo menyampaikan pernyataan psikologis berupa kesulitan yang dia rasakan dan mengeluh akan saran dosen, ia merasa berat sekali menanggung ketidakkuasaannya dalam melakukan kegiatan yang harus ia lakukan. Sampai- sampai ia ingin bersantai daripada sedih merasakan keadaannya. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan Bejo berikut:
“Aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku
yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum
tugas-tugas rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil
berjemur di pantai.”
Di
suatu sore, Wawan sedang asyik menonton acara tv kesukaannya, sedangkan ibunya
sedang bekerja sendiri di dapur.
Ibu
:
“Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”
Wawan
:
“Sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini.”
Ibu
:
“Kamu itu kalo diminta tolong kok mesti selalu nawar tho Wan.”
Wawan
:
“Iya bu. Maafkan Wawan.” (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)
Berikut ini
analisis kelompok kami :
- Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu termasuk jenis ilokusi, yaitu tuturan yang meminta / memohon petutur untuk melakukan sesuatu dalam bentuk respon dan tindakan. Dalam ucapan diatas si ibu menyindir Wawan, memiliki maksud bahwa daripada asyik menonton tv lebih baik Wawan membantunya bekerja di dapur. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan ibu berikut:
“Wan, apa kamu tidak capek dari
tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”
- Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu termasuk jenis direktif. Direktif merupakan jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk meminta, menyuruh, dan menyarankan kepada orang lain (petutur) melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, ibu secara tersirat meminta Wawan (petutur) agar membantunya di dapur. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan ibu berikut:
“Wan, apa kamu tidak capek dari
tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”
- Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan termasuk jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Wawan ingin ibu mengerti bahwa acara tv kesukaannya sangat menarik. Ia ingin lebih lama menonton tv. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan berikut:
“Masih nanggung untuk beranjak.
Lagi seru-serunya ini.”
- Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan termasuk jenis komisif. Komisif adalah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Wawan menyampaikan tuturannya kepada ibu dengan maksud berjanji akan membantunya bekerja di dapur, tapi Wawan meminta sedikit perpanjangan waktu menonton acara tv. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan berikut:
“Sebentar lagi ya bu.”
- Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu termasuk jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Ibu menyatakan bagaimana perasaanya saat Wawan tidak segera melakukan permintaannya. Tuturan ibu memberi penekanan agar Wawan mengerti keinginannya lewat reaksi batin. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan berikut:
“Kamu itu kalo diminta tolong kok
mesti selalu nawar tho Wan.”
- Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu, masuk ke dalam bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Beliau menyampaikan rasa psikologis berupa kekecewaan terhadap perilaku si petutur. Beliau merasa anaknya kurang patuh kepadanya. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan berikut:
“Kamu itu kalo diminta tolong kok
mesti selalu nawar tho Wan.”
- Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan termasuk jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Wawan ingin ibu merasakan penyesalannya, karena tidak segera mematuhi apa kata si ibu. Wawan ingin ibu mengerti. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan Wawan berikut:
“Iya bu. Maafkan Wawan.”
- Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan, masuk ke dalam bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Dia menyampaikan rasa psikologis berupa pernyataan penyesalan. Tindakan tersebut disebabkan oleh perkataan ibu, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur (Wawan). Pada saat menggunakan ekspresif Wawan menyesuaikan kata-kata dengan perasaannya. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan Wawan berikut:
“Iya bu. Maafkan Wawan.”
Itulah diskusi dari kelompok kami, mohon kritik dan sarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar