Minggu, 19 April 2015

TUGAS PRAGMATIK 3

Dosen Pengampu : 
Abdul Aziz Hunaifi, S.S M.A 

Anggota Kelompok :
1. Bai'atul Aqobatil Ula
2. Sulastrianik
3. Luluk Hidayatul Fitroh
4. Windi Wahyu Milasari
5. Tiara Eka
6. Angga



Catatan :
       :  Deksis Persona.
       :  Deksis Tempat.
       :  Deksis Waktu.

Analisis Percakapan Berdasarkan Konsep Deksis 

Berdasarkan konsep deksis, tentukan jenis-jenis deksis yang digunakan dan hubungan jaraknya dari percakapan dibawah ini !

Toni sedang bertamu dirumah temannya, Andi, selepas dari mengantar kakaknya ke setasion.

Andi    : "Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?"
Toni     : "Bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?"
Andi    : "Besok aku disini saja nemani kakek."
(kakek keluar dari kamar)
Kakek : " ooo... nak Toni, bagaimana kabarnya?"
Toni     : "Alhamdulillah, kabar saya baik kek."

Berikut analisis kami :
Dieksis Persona
  • Pada percakapan Andi dan Toni Deksis Persona - Proximal (dekat) dan jarak/hubungan psikologisnya terlihat akrab antara keduanya, karena Andi (penutur) menyebut Toni dengan sebutan "Kamu" (orang kedua Proximal), Toni (petutur) juga menyebut dirinya "Aku" (orang pertama Proximal). Untuk sapaan "ibuku" dan "kakek" (orang ke tiga, tidak terlibat dalam percakapan) merupakan dieksis persona - distal, karena jauh dari penutur dan petutur.
  • Pada Percakapan Toni dan kakek, kakek sebagai penutur menyapa Toni dengan sebutan "nak Toni" termasuk Deksis Persona - Proximal, karena kakek memanggil Toni dengan sebutan yang terlihat akrab. Dan Toni sendiri sebagai lawan tutur menyapa kakek dengan sebutan "kakek". Menunjukkan bahwa lawan tutur hubungan psikologisnya dekat/akrab dengan penutur dan berusaha menghormati penutur.
Dieksis Tempat
  • Di dalam percakapan tersebut terdapat kata Surabaya, di kampus, dan di sini merupakan Dieksis Tempat - Distal, karena tempatnya jauh dari penutur dan lawan tutur atau penutur dan lawan tutur tidak berada di tempat tersebut saat percakapan berlangsung.
Dieksis Waktu 
  • Dalam percakapan kata kemarin dan besok Dieksis Waktu - Distal (jauh), karena kemarin merupakan waktu yang sudah terjadi dan besok merupakan waktu yang akan datang.
Dieksis Tata Bahasa
  •  Menggunakan bentuk proximal, karena kalimat yang digunakan adalah kalimat langsung karena konteksnya sama dengan penutur.

Ibu bercerita tentang masa mudanya dulu kepada Intan, putri tercintanya.

Ibu     : "Dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam."
Intan  : "waaah, itu keren. Sudah mendaki gunung mana saja bu?"
Ibu    : "Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa ."
Intan : "Intan nanti kalau sudah besar, ingin seperti Ibu ah."

Berikut analisis kami :

Dieksis Persona
  •  Pada percakapan Ibu dan Intan adalah Deksis Persona - Proximal (dekat) dan jarak/hubungan psikologisnya terlihat akrab antara keduanya, karena Ibu (penutur) menyapa Intan dengan sebutan "nak" (orang kedua Proximal) dan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan "ibu" (orang pertama), Intan (petutur) juga menyebut dirinya dengan namanya sendiri "Intan" (orang pertama Proximal) dan menyebut penutur dengan sapaan "ibu" (orang kedua - proximal). Terlihat bahwa penutur jarak/hubungan psikologisnya sangat akrab, dan lawan tutur memperlihatkan sapaan yang sopan.
Dieksis Tempat
  •  Di dalam percakapan tersebut terdapat kata Kelud, Merapi, Penanggungan, dan Semeru merupakan Dieksis Tempat - Distal, karena tempatnya jauh dari penutur dan lawan tutur atau penutur dan lawan tutur tidak berada di tempat tersebut saat percakapan berlangsung.
Dieksis Waktu
  •  Dalam percakapan kata dulu dan nanti Dieksis Waktu - Distal (jauh), karena dulu merupakan waktu yang sudah terjadi saat penutur masih muda dan nanti merupakan waktu yang akan datang bagi lawan tutur.
Dieksis Tata Bahasa
  •  Menggunakan bentuk proximal, karena kalimat yang digunakan adalah kalimat langsung karena konteksnya sama dengan penutur.

Terjadinya pertengkaran di kelas bahasa yang berujung pada pemberian hukuman untuk semua siswa kelas bahasa tanpa terkecuali.

Firman    : "andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan. "
Puji         : "dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng."
Andri      : "yang lebih apes itu aku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikut dijemur."
Pak Dian : "kepanasan? sudah kapok belum?"
Siswa      : "Mendidih pak, kita sudah kapok pak."
Pak Dian : "Ya sudah. Sekarang, semua kembali  ke kelas. Ingat, jangan diulangi lagi."
Siswa      : "ya Pak, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Berikut analisis kami :

Dieksis Persona
  •  Pada percakapan Doni, Puji,  dan Andri adalah Deksis Persona - Proximal (dekat) dan jarak/hubungan psikologisnya terlihat akrab antara keduanya, karena Firman (penutur) menyebut dirinya dan teman-temannya dengan sebutan "kita" (inklusif atau penutur dan lawan penutur tercangkup didalamnya). Selain itu penutur menyebut orang ketiga dengan sebutan nama "Doni" karena hubungan psiologisnya. Puji juga menyebut Doni dengan sapaan "dia" (orang ketiga/yang dibicarakan) hal ini tetap termasuk proximal karena kemungkinan Doni juga dihukum ditempat tersebut pada waktu dan tempat yang sama. Andri (lawan tutur) menyebut dengan dirinya "aku". Terlihat bahwa penutur jarak/hubungan psikologisnya sangat akrab sesama teman. Namun, saat Andri berkata "pak Dian" ini menunjukkan Deksis Persona - Distal, karena pada saat itu pak Dian mungkin tidak berada di lapangan.
  • Saat pak Dian sebagai guru ikut dalam percakapan, para siswa menunjukkan sapaan "kami" (eksklusif, karena pak Dian tidak termasuk didalamnya) yang merupakan Deksis Persona -Distal karena terkesan formal. Hubungan psikologisnya menunjukkan kurang akrab karena status pak Dian diatas para siswa sehingga para siswa menunjukkan rasa hormat kepada pak Dian.
Dieksis Tempat
  •  Di dalam percakapan tersebut terdapat kata di lapangan merupakan Dieksis Tempat - Proximal karena tempatnya dekat atau ditempati saat berlangsungnya percakapan. Dan kata kelas, dan perpus merupakan Dieksis Tempat - Distal, karena tempatnya jauh dari penutur dan lawan tutur atau penutur dan lawan tutur tidak berada di tempat tersebut saat percakapan berlangsung.
Dieksis Waktu
  •  Dalam percakapan kata tadi termasuk Dieksis Waktu - Distal (jauh), karena tadi merupakan waktu yang sudah terjadi. Selain itu dalam percakapan terdapat kata sekarang termasuk Dieksis Waktu - Proximal karena sedang dilakukan saat percakapan berlangsung.
Dieksis Tata Bahasa
  •  Menggunakan bentuk proximal, karena kalimat yang digunakan adalah kalimat langsung karena konteksnya sama dengan penutur.



     

    Sabtu, 04 April 2015

    Tugas Pragmatik 2

    Dosen pengampu:
    Abdul Aziz Hunaifi, S.S., M.A.


    Nama anggota :
    1. Bai'atul Aqobatil Ula
    2. Luluk Hidayatul Fitroh
    3. Windi Wahyu Milasari
    4. Sulastrianik
    5. Tiara Eka
    6. Angga 
    Kelas 2 J PGSD UNP Kediri

    Berdasarkan konsep pragmatik dan klasifikasi tindak tutur, analisislah percakapan yang terjadi di bawah ini dengan menentukan: Jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh para penutur dalam percakapan sebagaimana yang disampaikan oleh Austin & Searle dan Searle.

    Hari Minggu sore, Andi dan teman-teman berkumpul di rumah Rahmat. Mereka sudah lama tidak saling jumpa setelah masing-masing melanjutkan studi di kota yang berbeda.
    Andi : “Jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji.”
    Heru : “Hmmmm… apa enaknya? Enakan ke rental PS.”
    Rohmat : “Semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor.”
    Poniran : “Sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”



    Berikut ini analisis kelompok kami :
    • Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan Andi,  berdasarkan konsep Austin & Searle, termasuk jenis tindak tutur perlokusi, yaitu yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah teman-temannya. Andi menyampaikan pernyataan kalau hari Minggu sore kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan adalah jalan-jalan serta mencicipi duren di Sekartaji. Dia ingin teman-temannya menanggapi pendapatnya. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut: 
    “Jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji.” 
    • Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Andi, termasuk  bentuk tindak tutur direktif, yaitu jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, ia ingin jalan-jalan serta mencicipi duren di Sekartaji dan mengajak teman-temannya. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
    “Jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji.”



    • Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan Heru, berdasarkan konsep Austin & Searle, termasuk jenis tindak tutur lokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menitikberatkan pada informasi saja. Heru menyampaikan pernyataan kalau hari Minggu sore kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan adalah ke rental PS. Ia yakin bahwa kegiatan tersebut lebih baik daripada jalan-jalan dan mencicipi duren di Sekartaji. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
    “Hmmmm… apa enaknya? Enakan ke rental PS.”
    •  Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Heru, termasuk bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Heru menyampaikan pernyataan psikologis berupa ketidaksukaannya dengan pendapat Andi. Ia yakin bahwa ke rental PS adalah kegiatan yang lebih baik daripada jalan-jalan dan mencicipi duren di sekartaji. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
    “Hmmmm… apa enaknya? Enakan ke rental PS.”


    • Menurut konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Rohmat masuk ke dalam jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah teman-temannya. Rohmat menyampaikan perasaan sedihnya atas keadaannya yang tidak dapat meninggalkan rumah karena ibunya sakit dan ayahnya yang belum pulang karena bekerja. Rohmat menginginkan ketiga temannya bersimpati kepadanya. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Rohmat berikut: 

      • “Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor.”
    • Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Rohmat, masuk ke dalam bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Andi menyampaikan pernyataan psikologis berupa kesedihan karena ia tidak dapat melakukan kegiatan yang diusulkan Andi dan Heru, juga karena ibunya sakit dan ayahnya belum pulang bekerja (tentu ia tidak akan meninggalkan ibunya sendirian di rumah). Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut: 
      • “Semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor.”




    • Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Poniran masuk ke dalam ilokusi, yaitu tuturan yang meminta / memohon petutur untuk melakukan sesuatu dalam bentuk respon dan tindakan. Poniran menyampaikan kepada Heru dan Andi serta dirinya sendiri untuk menemani Rohmat di rumah Rohmat, mungkin maksud Poniran ialah daripada mereka bersenang-senang dan tidak dapat mengikutsertakan Rohmat lebih baik menemani Rohmat. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:
                                         “Sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”
       

    • Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Rohmat, masuk ke dalam jenis deklaratif, yaitu jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan atau tuturan yang menciptakan hal baru. Poniran menetapkan bahwa kegiatan mereka adalah menemani si Rohmat. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut: 
      “Sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”  



    Di ruang J6 para mahasiswa sedang memperhatikan penjelasan dosen tentang salah satu metode pembelajaran.
    (sembari berbisik, Bejo dan Retno berbincang seputar pelajaran yang mereka terima)
    Bejo : “Ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya.”
    Retno : “Yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!”
    Dosen : “Untuk memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian.”
    Bejo : “Aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai.”


    Berikut ini analisis kelompok kami :
    • Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Bejo termasuk jenis tindak tutur perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah Retno. Bejo menyampaikan bahwa ia kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Dengan tuturan tersebut, Bejo ingin Retno tahu bagaimana perasaannya dan memberi tanggapan atas perasaannya. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:

             “Ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya.”


    • Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo, tergolong jenis ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Bejo menyampaikan pernyataan psikologis berupa kesulitan yang dia rasakan karena ketidakpahamannya tentang materi metode pembelajaran yang disampaikan oleh dosen. Sebagaimana yang terlihat di dalam ucapannya berikut:

              “Ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya.”



    • Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Retno, termasuk jenis tindak tutur lokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menitikberatkan pada informasi saja. Retno sekedar mengatakan bahwa materi tersebut sedikit rumit dan langkah-langkahnya banyak. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Retno berikut:
    “Yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak.”
    • Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Retno, tergolong jenis direktif. Direktif merupakan jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, Retno menyarankan agar Bejo tetap semangat walaupun sulit. Retno berpikir tidak mungkin tidak paham kalau mereka berdua optimis pasti bisa. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Retno berikut:
    “Tapi pasti bisa. Semangat!”



    • Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh dosen, termasuk jenis tindak tutur lokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menitikberatkan pada informasi saja. Bapak dosen memberitahu para mahasiswanya, mereka bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikannya. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan beliau berikut:
                  “Untuk memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan.”
     
    • Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh dosen, tergolong tindak tutur jenis deklaratif, yaitu jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan atau tuturan yang menciptakan hal baru. Beliau menyatakan bahwa studi banding tidak didampingi olehnya, tapi digantikan oleh Ibu Dina. Sehingga pernyataan beliau mengubah siapa yang akan mendampingi mereka saat studi banding. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan beliau berikut:
    “Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian.”






    • Berdasarkan konsep Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Bejo, termasuk jenis tindak tutur perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Bejo menyampaikan keluh kesahnya kepada Retno dan menginginkan Retno mengerti akan perasaannya tentang betapa beratnya jika ia membaca buku. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan Bejo berikut:

    “Aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas rumah yang lain.”

    • Sedangkan berdasarkan konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo, tergolong tindak tutur jenis ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Bejo menyampaikan pernyataan psikologis berupa kesulitan yang dia rasakan dan mengeluh akan saran dosen, ia merasa berat sekali menanggung ketidakkuasaannya dalam melakukan kegiatan yang harus ia lakukan. Sampai- sampai ia ingin bersantai daripada sedih merasakan keadaannya. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan Bejo berikut:
                                “Aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum      tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai.”





    Di suatu sore, Wawan sedang asyik menonton acara tv kesukaannya, sedangkan ibunya sedang bekerja sendiri di dapur.
    Ibu : “Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”
    Wawan : “Sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini.”
    Ibu : “Kamu itu kalo diminta tolong kok mesti selalu nawar tho Wan.”
    Wawan : “Iya bu. Maafkan Wawan.” (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)


    Berikut ini analisis kelompok kami :

    •  Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu termasuk jenis ilokusi, yaitu tuturan yang meminta / memohon petutur untuk melakukan sesuatu dalam bentuk respon dan tindakan. Dalam ucapan diatas si ibu menyindir Wawan, memiliki maksud bahwa daripada asyik menonton tv lebih baik Wawan membantunya bekerja di dapur. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan ibu berikut:
    “Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”

    • Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu termasuk jenis direktif. Direktif merupakan jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk meminta, menyuruh, dan menyarankan kepada orang lain (petutur) melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, ibu secara tersirat meminta Wawan (petutur) agar membantunya di dapur. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan ibu berikut:
    “Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”




    • Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan termasuk jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Wawan ingin ibu mengerti bahwa acara tv kesukaannya sangat menarik. Ia ingin lebih lama menonton tv. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan berikut:
    “Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini.”

    • Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan termasuk jenis komisif. Komisif adalah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Wawan menyampaikan tuturannya kepada ibu dengan maksud berjanji akan membantunya bekerja di dapur, tapi Wawan meminta sedikit perpanjangan waktu menonton acara tv. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan berikut:
    “Sebentar lagi ya bu.”




    •  Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu termasuk jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Ibu menyatakan bagaimana perasaanya saat Wawan tidak segera melakukan permintaannya. Tuturan ibu memberi penekanan agar Wawan mengerti keinginannya lewat reaksi batin. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan berikut:
    “Kamu itu kalo diminta tolong kok mesti selalu nawar tho Wan.”

    • Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu, masuk ke dalam bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Beliau menyampaikan rasa psikologis berupa kekecewaan terhadap perilaku si petutur. Beliau merasa anaknya kurang patuh kepadanya. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan berikut:
    “Kamu itu kalo diminta tolong kok mesti selalu nawar tho Wan.”




    • Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan termasuk jenis perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Wawan ingin ibu merasakan penyesalannya, karena tidak segera mematuhi apa kata si ibu. Wawan ingin ibu mengerti. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan Wawan berikut:
    “Iya bu. Maafkan Wawan.”

    •  Menurut konsep Searle, tuturan yang disampaikan oleh Wawan, masuk ke dalam bentuk tindak tutur ekspresif, yaitu jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu perasaan psikologis yang di rasa oleh penutur. Dia menyampaikan rasa psikologis berupa pernyataan penyesalan. Tindakan tersebut disebabkan oleh perkataan ibu, tetapi semuanya menyangkut pengalaman penutur (Wawan). Pada saat menggunakan ekspresif Wawan menyesuaikan kata-kata dengan perasaannya. Sebagaimana yang terlihat dalam ucapan Wawan berikut:
    “Iya bu. Maafkan Wawan.”


    Itulah diskusi dari kelompok kami, mohon kritik dan sarannya.